Printed From:

Stress

Otak dan usus saling memengaruhi satu sama lain dan penelitian membuktikan bahwa kelelahan, stress, dan gangguan mood ternyata dapat meningkatkan resiko sembelit. Sembelit pada kondisi stress dapat terjadi karena adanya gangguan atau perubahan pergerakan usus.1,2

Faktor psikologis ternyata dapat menghambat pergerakan usus dengan memengaruhi aliran darah ke rektum serta sistem persarafan otonom di saluran pencernaan. Hal ini akan menyebabkan transit atau waktu simpan tinja di usus bertambah lama sehingga menyebabkan kondisi sembelit. Fakta ini membuktikan bahwa ternyata ada hubungan antara aktivitas di otak sentral dengan persarafan usus dan anus serta rektum.3

Referensi :

  1. Mearin F, et al. Traveler’s Constipation. Am J Gastroenterol. 2003 Feb; 98(2): 507-9.
  2. Tuteja A, et al. Development of Functional Diarrhea, Constipation, Irritable Bowel Syndrome, and Dyspepsia During and After Traveling Outside the USA. Dig Dis Sci (2008) 53: 271 – 276.
  3. Devanarayana NM, Rajindrajith S. Association Between Constipation and Stressful Life Events in a Cohort of Sri Lankan Children and Adolescents. Journal of Tropical Pediatrics 2010; 56(3): 144-48.
  4. Jackson EM. The Role of Exercise in Stress Management. Health and Fitness Journal 2013: 17(3): 14-19.
 

 

TIPS

Selain menggunakan obat pencahar, diperlukan juga aktivitas untuk mengurangi stress. Lakukan hal-hal yang dapat mengurangi tingkat stress seperti berolahraga, meditasi, yoga, dan tentunya diimbangi dengan pola makan yang sehat serta istirahat yang cukup.4

Artikel_Stress

Dulcolax Tablet